His Journey Is On Another Level

Senin, 2 Oktober 2023

Sejak beberapa hari lalu kami disibukkan dengan persiapan keberangkatan anak sulung kami ke Kairo, Mesir. Ini adalah keinginan dia sejak beberapa tahun lalu, ketika dia masih duduk di kelas VII SMP di Pondok pesantren Ihya'ul Qur'an Bengkulu.

Kami biasa mendiskusikan rencana-rencana kami dalam segala hal, terutama dalam pendidikan. Beberapa tahun lalu, kami mengajak sulung kami berdiskusi terkait keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Kala itu, dia menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan jenjang SMAnya di Ma'had Al-azhar, Kairo. Setelah berdiskusi dengan menanyakan alasan dia dan beberapa hal yang memicu dia untuk sekolah ke Mesir, kami pun memulai pergerakan kami dengan mencari info terkait persyaratan untuk bersekolah di sana. Yang pertama kami lakukan adalah, menghubungi beberapa teman, dan kami mendapatkan info bahwasanya persyaratan utama untuk melanjutkan sekolah di ma'had Al-azhar Kairo adalah kemampuan berbahasa Arab. 

Selanjutnya, menyusun strategi, kami masih mempunyai waktu yang cukup senggang untuk menyiapkan perjalanan pendidikan sulung kami, namun kami tidak ingin terlena. Saat itu kami menyampaikan ke sulung kami bahwasanya persyaratan utama untuk melanjutkan pendidikan di ma'had Al-Azhar adalah kemampuan bahasa Arab, kami memberi tantangan padanya, jika dia memang benar-benar ingin melanjutkan studinya ke sana, maka dia harus membuktikan skill bahasa Arabnya.

Tentu tidak mudah baginya, dia adalah anak science murni, biasa berkompetisi dalam bidang Matematika dan Bahasa Inggris, namun ditantang untuk menguasai bahasa Arab. Bahkan, dia harus membuktikan kemampuannya tidak hanya dalam bentuk nilai di raport, kami menantang dia untuk mengikuti berbagai perlombaan dalam bahasa Arab, termasuk dalam ajang Olimpiade. Dan Alhamdulillah pada OBA (Olimpiade Bahasa Arab) tahun 2022 lalu, dia membuktikan pada kami bahwa dia layak untuk diberikan SIM (Surat Izin Merantau) ke Kairo, dia berhasil tembus OBA sampai tingkat Nasional dan meraih medali. Bagi kami, semua yang dia lalui bukanlah perkara menjuarai suatu ajang kompetisi, namun kami ingin memberikan pelajaran padanya, bahwa untuk menggapai suatu hal yang diinginkan, maka dibutuhkan adanya usaha dan perjuangan. 

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya sulung kami tidak sepenuhnya masuk pondok sejak awal, dia adalah anak pindahan, baru memulai belajar di pesantren pada akhir semester ganjil menjelang ujian akhir semester di kelas VII. Kami pun sangat paham sekali betapa tidak mudahnya bagi dia, membayangkan dia mendapatkan full beasiswa 3 tahun tingkat SMP di sekolah sebelumnya (Al-Azhar Mandiri kota Palu) dengan perjuangan melewati ujian seleksi dalam bidang Matematika dan Bahasa Inggris, namun harus bermanuver beralih dengan menguasai bahasa Arab, Alhamdulillah it paid off.

Selain kesungguhan anak sulung kami, yang patut kami soroti adalah kesungguhan pondok pesantren Ihya'ul Qur'an Bengkulu tempat anak kami menuntut ilmu dalam menanamkan motivasi kecintaan terhadap bahasa Arab pada siswa-siswanya sehingga bahasa tersebut menjadi suatu kebutuhan bagi santri, dalam percakapan sehari-hari maupun dalam kegiatan pembelajaran. Pesantren ini bukanlah pesantren yang telah berdiri puluhan tahun, usia pesantren ini bahkan masih di bawah 10 tahun, namun prestasi siswa-siswanya sudah sampai ke tingkat nasioanal, bahkan beberapa lulusannya pun sudah banyak yang melanjutkan kuliah di kampus-kampus timur tengah dengan beasiswa.

November 2020

Sedikit flashback, di bulan November 2020 kami pertama kali mengunjungi anak sulung kami di pondok pesantren paska kepindahan kami ke Bengkulu. Saat itu, dia santri baru masih hitungan minggu, namun yang membuat saya takjub adalah, dia sudah mulai menggunakan beberapa kosakata dan kalimat dalam bahasa Arab. Sebulan kemudian, ketika perpulangan di liburan semester, dia bahkan mulai berbicara bahasa Arab dengan mama dan adik-adiknya, dengan bangganya dia membangunkan adik-adiknya tidur dengan menggunakan bahasa Arab. Saat itu, saya mulai dapat membaca, bahwa dia memiliki potensi untuk menguasai bahasa Arab. 

Angin-angin segar pun mulai kami tiupkan untuk mengobarkan api semangatnya dalam mempelajari bahasa Arab, berbekal buku karya seorang teman yang menceritakan salah satu anaknya yang sedang belajar di Mesir. Saya memberikan buku itu kepada anak sulung kami untuk dibawa dan dibaca ketika kembali ke pondok pesantren setelah liburan, tanpa dibumbuin banyak  cerita tentang anak dari teman kami, kami ingin dia menyimpulkan sendiri dari buku yang dia akan baca. And boom.. it worked, ketika kami mengajak dia diskusi, dia pun menyampaikan ketertarikannya untuk belajar ke Kairo. Dengan percikan keinginan belajar ke Kairo inilah, motivasinya untuk menguasai bahasa Arab semakin meningkat.

Barakallaah fiikum para asatidz, ustadzaat dan teman-teman yang telah Allah kirimkan sebagai wasilah bagi anak kami untuk mempelajari bahasa Al-Qur'an dan bahasanya ahli Syurga, serta teman-teman informan yang telah memudahkan kami dalam mengantarkan anak kami untuk menuntut ilmu ke negerinya para Nabi. Semoga Allah selalu membimbingnya dalam menuntut ilmu, Aamiin.

Comments

  1. Bukunya apa ma?

    ReplyDelete
  2. Novel Remaja, Petualangan Impian, karya Betti Octryani

    ReplyDelete
  3. D ma'had al azhar beasiswa full kh ukht?
    Mgkn bisa didetail bgaimana proses mndaftar ksna...🙏🥰🥰

    ReplyDelete
  4. Pendidikan di Ma'had Al Azhar tidak berbayar alias GRATIS sejak mendaftar hingga lulus. Insyaallah nnt kl senggang saya tuliskan detail prosesnya.

    ReplyDelete
  5. MashaAllah teh....ikut seneng baca dan denger klo kakak seluar biasa iniii...sukses selalu yaa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prosedur Sekolah Di Ma'had Al Azhar Kairo

Pengalaman hari pertama sekolah kakak Aufa di Edinburgh, United Kingdom